“Siapakah Aku Ini, Tuhan?” — Rekoleksi Calon Dewan Stasi dalam Terang Panggilan

  • Bagikan
Foto: Rekoleksi umat dipimpin oleh Rm. Marus, berlangsung dalam suasana hening, reflektif, dan penuh penghayatan iman sebagai sarana pembaruan rohani.

KODI UTARA, OBOR SUMBA — Hujan turun deras pagi itu, membasahi tanah dan atap sederhana di Gereja Katolik Stasi St. Gaudensius Tanggu Dendo, Paroki St. Paulus Ande Ate. Tetesannya jatuh tanpa jeda, seolah ikut mengetuk hati setiap orang yang berkumpul.

Tidak ada gemerlap. Tidak ada klaim kesucian. Yang ada hanyalah hati-hati yang berkumpul dalam kesadaran sederhana: Tuhan memanggil. Di Stasi St. Gaudensius Tanggu Dendo, para calon Dewan Stasi duduk dalam keheningan, membawa kisah hidup masing-masing, dan satu pertanyaan yang pelan namun dalam: “Siapakah aku ini, Tuhan?”

Rekoleksi calon Dewan Stasi ini digelar dalam terang Sabda Tuhan dari 2 Samuel 7:18–19, 24–29 dan Injil Markus 4:21–25. Sabda itu tidak hadir sebagai tuntutan, melainkan sebagai undangan–undangan untuk kembali melihat diri di hadapan Allah yang setia memilih manusia yang rapuh.

Sebagai narasumber, Rm. Marianus Lecke, Pr, atau yang akrab disapa Rm. Marus, mengajak para peserta menelusuri perjalanan iman Raja Daud. Seorang raja besar yang justru berani merendahkan diri di hadapan Tuhan.

“Daud tidak berdiri di hadapan Tuhan sambil memamerkan keberhasilannya. Ia justru bertanya, ‘Siapakah aku ini, ya Tuhan?’ Di situlah letak iman yang sejati,” tutur Rm. Marus dengan nada tenang.

Pertanyaan itu, menurutnya, bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan iman bahwa segala sesuatu bersumber dari Tuhan. Menjadi Dewan Stasi pun demikian bukan karena layak, tetapi karena dipercaya.

“Tuhan tidak memilih orang yang sudah jadi. Tuhan memilih orang yang mau dibentuk. Pelayanan Gereja bukan soal jabatan, tetapi soal kesediaan untuk belajar dan setia,” ujarnya.

Dalam terang Injil Markus, Rm. Marus mengajak para Dewan Stasi menatap kembali makna pelita yang dinyalakan. Terang, katanya, tidak dimaksudkan untuk disembunyikan, tetapi untuk dibagikan pelan, setia, dan nyata.

“Pelita itu tidak dinyalakan untuk disimpan di bawah tempat tidur. Terang itu harus kelihatan dalam sikap hidup: di rumah, di kebun, di pasar, dan di jalan. Bukan lewat seragam, tetapi lewat cara kita memperlakukan sesama,” tegasnya.

Rekoleksi ini juga menyentuh realitas hidup menggereja yang sering sepi. Banyak umat datang dengan rasa malu, lelah, atau merasa jauh dari Gereja. Dalam konteks itulah Dewan Stasi dipanggil bukan sebagai hakim, melainkan sebagai saudara.

“Kadang umat tidak butuh ceramah panjang. Cukup satu senyum, satu sapaan tulus. Pelayanan yang paling kuat bukan suara keras, tetapi hati yang hangat,” kata RM. Marus, Rabu, 29 Januari 2026.

Dalam keheningan rekoleksi, para peserta diajak berhenti sejenak, mendengarkan suara Tuhan yang berbicara pelan di dalam hati. Tentang pelita yang dititipkan. Tentang siapa yang perlu diterangi. Tentang kesetiaan yang diminta hari demi hari.

Rekoleksi ditutup dengan doa sederhana doa orang-orang kecil yang percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memilih. Bahwa meski pelita itu kecil dan kadang redup, selama mau menyala, ia tetap menghadirkan terang.

(OS/JM)

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *