Pelayan Komsos Diminta Fokus pada Pewartaan, Jangan Terjebak Teknis

  • Bagikan
Ketua Komsos Keuskupan Weetebula, RD Tiburtius Plasidus Mari, mengingatkan pelayan komsos agar tidak terjebak urusan teknis media hingga melupakan tugas utama pewartaan dan pelayanan, dalam khotbahnya, Kamis (18/4/2026).

TAMBOLAKA, OBOR SUMBA — Ketua Komsos Keuskupan Weetebula, RD. Tiburtius Plasidus Mari mengingatkan para pelayan komunikasi sosial (komsos) agar tidak terjebak dalam urusan teknis media hingga melupakan tugas utama pewartaan dan pelayanan, dalam sebuah khotbah yang menekankan keseimbangan antara karya pastoral dan praktik media, Kamis (18/4/2026).

Mengawali khotbahnya dengan sapaan, “saudaraku yang terkasih dalam Kristus”, RD Tiburtius mengajak umat merefleksikan pelayanan Gereja dengan merujuk pada kisah “sumur” dan pelayanan kepada “janda”. Ia menilai, dalam praktiknya, pelayanan kerap menghadapi persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

“Kami tidak merasa puas,” ujarnya, merujuk pada dinamika pelayanan yang dinilai masih menyisakan kekurangan, terutama dalam perhatian terhadap kelompok rentan seperti para janda.

Baca juga: https://www.oborsumba.com/kepala-inspektorat-kabupaten-sbd-theofilus-natara-st-kami-lakukan-audit-sesuai-informasi-yang-viral-di-media/

Ia menjelaskan bahwa “melayani meja” bukan sekadar tugas administratif, melainkan bentuk pelayanan sosial konkret bagi mereka yang kehilangan pasangan dan membutuhkan perhatian khusus. Namun, dalam kenyataan, para pelayan kerap disibukkan dengan berbagai aktivitas, termasuk urusan teknis media, sehingga tugas utama menjadi terabaikan.

Akibatnya, perhatian terhadap janda dan kelompok yang membutuhkan justru teralihkan. Bahkan, ada pelayan yang tidak sempat melihat atau mengambil bagian dalam pekerjaan yang seharusnya menjadi prioritas pelayanan.

RD Tiburtius menegaskan pentingnya pembagian tugas dan kolaborasi. Dengan melibatkan lebih banyak orang, para pelayan inti dapat tetap fokus pada karya utama pelayanan dan pewartaan.

Dalam konteks pelayanan media, ia juga menyoroti pentingnya kepekaan menangkap momen. Para pegiat komsos diminta untuk sigap, cepat, dan tepat dalam mendokumentasikan peristiwa.

“Harus siap, gembira, cepat tangkap momen,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar para pelayan tidak terjebak hanya menjadi operator teknis atau terlalu sibuk dalam proses editing. Menurut dia, kualitas konten tidak hanya ditentukan oleh visual, tetapi juga oleh makna dan pesan yang disampaikan.

Baca juga: https://www.oborsumba.com/musda-golkar-sumba-barat-daya-berlangsung-lancar-heribertus-pemudadi-terpilih-aklamasi/

Menutup khotbahnya, RD Tiburtius mengajak seluruh pelayan komsos untuk kembali menyadari tugas utama mereka sebagai pewarta.

“Kita memiliki media untuk tugas pewartaan. Mari kita bersama untuk mewartakan kebenaran dan kebaikan,” ujarnya.

Ia menegaskan, keseimbangan antara keterampilan teknis dan kesadaran pastoral menjadi kunci agar pelayanan tetap berjalan sesuai dengan tujuan Gereja.

04/JM

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *