Dari Kecewa Menjadi Saksi

  • Bagikan
RD. Marianus Lecke, Ketua Moderator Orang Muda Katolik (OMK) Dekenat Kodi, Keuskupan Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

KODI UTARA, OBOR SUMBA — Dalam keheningan Stasi St. Gaudensius Tanggu Dendo, puluhan umat mengikuti Ekaristi Minggu Paskah III, seraya merefleksikan kisah perjalanan ke Emaus sebagai cermin pergulatan iman di tengah kekecewaan hidup.

Perayaan yang dipimpin RD. Marianus Lecke itu menghadirkan kembali pengalaman dua murid yang meninggalkan Yerusalem dalam suasana kehilangan harapan. Kekecewaan menutup mata mereka hingga tidak mengenali kehadiran Yesus yang justru menyertai langkah mereka.

Dalam homilinya, Pastor Moderator OMK Paroki St. Paulus Ande Ate tersebut mengajak umat menengok dinamika hidup yang kerap kehilangan arah hadir secara lahiriah, tetapi batin diliputi kegelisahan dan beban persoalan.

“Masalah terbesar bukan Tuhan yang jauh, melainkan hati manusia yang tertutup,” ujar RD. Marus.

Baca juga:  https://www.oborsumba.com/pelayan-komsos-diminta-fokus-pada-pewartaan-jangan-terjebak-teknis/

Refleksi itu menegaskan bahwa pengalaman iman tidak pernah lepas dari pergulatan. Luka dan keluhan sering menyita perhatian, sehingga kehadiran Tuhan yang dekat justru luput disadari. Dalam terang Kisah Para Rasul, perubahan Petrus dari ketakutan menuju keberanian menjadi penanda bahwa iman bertumbuh melalui proses.

Menurut RD. Marianus, iman tidak berhenti pada pengakuan, melainkan menuntut keterlibatan hidup yang utuh. Ia bertumbuh perlahan melalui pendampingan, pemahaman, dan keterbukaan terhadap Sabda.

Kisah Emaus mencapai puncaknya dalam peristiwa pemecahan roti momen sederhana yang membuka mata para murid. Dalam pengalaman itu, perjumpaan tidak hanya disadari, tetapi juga mengubah arah perjalanan mereka.

“Iman bukan soal melihat, tetapi percaya dan berani mendalami,” katanya. Minggu (19/4/2026).

Seusai perayaan, umat meninggalkan gereja dalam suasana tenang. Sebagian berbincang pelan, sementara yang lain melangkah dalam diam, seolah membawa pulang permenungan yang masih hidup.

Maria Andelo, mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Katolik UNIKA Weetebula, mengaku tersentuh oleh pesan homili tersebut.

“Saya sering merasa Tuhan jauh saat menghadapi masalah. Padahal, lewat kotbah ini saya sadar Tuhan sebenarnya selalu ada, hanya saya yang tidak peka,” ujar Maria.

Baca juga:  https://www.oborsumba.com/kepala-inspektorat-kabupaten-sbd-theofilus-natara-st-kami-lakukan-audit-sesuai-informasi-yang-viral-di-media/

Kisah Emaus tidak berhenti sebagai narasi Kitab Suci, melainkan menjelma pengalaman yang terus berulang dalam kehidupan manusia tentang kehilangan, pencarian, dan penemuan kembali.

Di tengah pergulatan itu, Paskah menegaskan satu hal: Tuhan tidak pernah absen. Ia hadir, berjalan dalam diam, dan pada waktunya membuka mata hati manusia untuk mengenali-Nya.

(03/JM).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *