Belajar di Kelas Bambu: Perjuangan Lukas Lemba Loghe Mendirikan SMA Swasta Kadu Renge Demi Anak-anak Bangsa

  • Bagikan
Dinding bambu dan atap seng menaungi ruang belajar sederhana, dengan meja dan kursi yang juga dirakit dari bambu. Dari tempat inilah Lukas Lemba Loghe, S.Pd., memulai perjuangan panjang demi menghadirkan pendidikan bagi anak-anak di Kadu Renge.

KODI UTARA, OBOR SUMBA – Di Kampung Kadu Renge, Dusun IV, Desa Kadu Eta, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur berdiri sebuah sekolah sederhana yang jauh dari kata mewah.

Dindingnya bambu, atapnya seng, sementara meja dan kursinya pun dirakit dari bambu. Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan sebuah perjuangan panjang yang dipelopori oleh seorang guru: Lukas Lemba Loghe, S.Pd.

Dengan tekad menghadirkan pendidikan bagi anak-anak di kampungnya, Lukas menggagas berdirinya SMA Swasta Kadu Renge, yang secara resmi didirikan pada 5 Juni 2022 di bawah naungan Yayasan Sumba Mandiri yang diketuai Daniel Dita Dana, S.H., M.Hum.

Sekolah tersebut berdiri di atas lahan seluas satu hektare milik Lukas Lemba Loghe, yang kini juga menjabat sebagai kepala sekolah. Saat ini, sertifikat tanah masih dalam proses pengurusan sebagai bagian dari persyaratan administrasi sekolah.

Bagi Lukas, mendirikan sekolah di kampung bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan panggilan hati. Ia melihat sendiri bagaimana banyak anak di wilayah tersebut kesulitan melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP.

“Sebelumnya anak-anak harus berjalan sekitar 4 hingga 5 kilometer untuk bersekolah di SMA Swasta Bukambero dan SMA Swasta Marapati di Kota Tambolaka, dengan melewati hutan dan jalan yang cukup ekstrem. Tidak semua keluarga mampu mendukung mereka untuk pergi sejauh itu setiap hari,” ungkap Lukas, 9 Maret 2026.

Dari kegelisahan itulah lahir gagasan untuk menghadirkan SMA di Kampung Kadu Renge. Bersama masyarakat, Pemerintah Desa Kadu Eta dan Plt. Desa Persiapan Kalembu Ede, Lukas mulai merintis sekolah dengan fasilitas yang sangat sederhana.

Ruang belajar yang ada saat ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Bangunan tersebut beratap seng, berdinding bambu, dengan meja dan kursi dari bambu.

Tiga ruang kelas darurat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dengan ukuran:

  • Kelas X: 4 x 7 meter
  • Kelas XI: 3 x 7 meter
  • Kelas XII: 3 x 7 meter

Meski serba terbatas, sekolah ini tetap berjalan dan kini menampung 29 siswa, terdiri dari 10 siswa kelas X, 9 siswa kelas XI, dan 10 siswa kelas XII.

Menurut Lukas, perjuangan membangun sekolah ini tidak mudah. Selain keterbatasan fasilitas, sekolah juga masih berproses untuk mendapatkan izin operasional.

“Salah satu syaratnya jumlah siswa harus mencapai 70 orang, serta ada dukungan dari sekolah lain, yaitu SMP St. Ambrosius Magho Linyo, dan SMP Swasta Taman Siswa Rada Meter,” jelasnya.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, SMA Swasta Kadu Renge tetap menjalankan proses pendidikan dengan dukungan 7 tenaga pengajar, yang terdiri dari 6 guru tetap dan 1 guru relawan. Semuanya mengajar sesuai bidang studinya.

Perjuangan Lukas dan masyarakat mulai menampakkan hasil. Pada tahun 2025, sekolah ini berhasil meluluskan angkatan pertama sebanyak 10 siswa.

Salah satu lulusan, Petrus Pati Kuri, kini melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan di STIKES Faathir Husada Tangerang dengan dukungan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sebelumnya, 9 orang siswa juga telah diutus menjadi mahasiswa di lembaga tersebut.

Bagi Lukas, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa sekolah kecil di kampung pun bisa membuka jalan bagi mimpi besar anak-anak.

“Walaupun kelas kami dari bambu, kami percaya pendidikan bisa membawa anak-anak sampai ke tempat yang lebih jauh,” katanya.

Dari sebuah sekolah sederhana di Kodi Utara, perjuangan seorang guru bersama masyarakat terus menyalakan harapan bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari gedung megah, tetapi dari keteguhan hati untuk tidak menyerah pada keadaan.

“Harapan kami, semoga ada bantuan gedung permanen dan fasilitas ruang kelas dari Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mendukung kegiatan belajar mengajar anak-anak bangsa,” ucap Lukas.

Novia Ina Kaka dan Marta Bali Mema, siswa kelas XII, mengaku merasa nyaman selama belajar di sekolah tersebut, meskipun kondisi gedung sekolah masih sederhana.

Marta mengatakan dirinya bercita-cita menjadi perawat.
“Yang penting kami bisa belajar. Aman-aman saja, yang penting ada tempat duduk. Yang penting jangan sampai duduk di tanah,” ujarnya.

Sementara itu, Novia mengaku senang bisa bersekolah di SMA Swasta Kadu Renge dan bercita-cita melanjutkan pendidikan di bidang farmasi.

(OS/YUM).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *