TAMBOLAKA, OBOR SUMBA — 25/11/25. Polemik mengenai Pergantian Antar Waktu (PAW) di Partai NasDem kembali mencuat setelah Carolina Louro, anggota DPRD Sumba Barat Daya untuk periode 2024 – 2029, resmi diberhentikan melalui Surat Keputusan dari Gubernur NTT Melki Laka Lena No. 100.3.3.1/1030 PEMKES. Surat keputusan tersebut menekankan bahwa Carolina digantikan oleh Lede Bulu, yang meraih suara terbanyak kedua di Dapil II SBD.
Akan tetapi, di balik keputusan administratif yang tampak sepele ini, Carolina justru membagikan kisah yang jauh lebih rumit dan penuh dengan kekecewaan.
Ia menyatakan bahwa ia tidak pernah menerima penjelasan resmi dari Partai NasDem mengenai pemecatannya. Tidak pernah ada undangan untuk bersidang atau klarifikasi, dan tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk menanyakan soal ini. Semua terjadi tiba-tiba, seolah ada pintu yang tertutup rapat di depannya tanpa penjelasan sama sekali.
Dengan nada yang tegas, perempuan kelahiran Wewewa ini mengekspresikan apa yang ia alami selama proses PAW yang menurutnya tidak biasa.
“Saya merasa bahwa saya berjuang untuk menjaga amanah dari masyarakat. Namun pada akhirnya, saya menghadapi keadaan di mana saya berhadapan dengan suatu kekuasaan yang, maaf, saya harus menyatakan sedang mengambil alih hak konstitusi saya dan hak para pendukung saya,” terangnya.
https://www.oborsumba.com/janda-tiala-lolo-tinggal-di-rumah-reot-warga-pertanyakan-penyaluran-dana-desa-watu-wona
Carolina menjelaskan kepada para pendukungnya bahwa ia tidak pernah menandatangani surat pengunduran diri, seperti yang sering dipertanyakan oleh publik.
“Saya sudah menjelaskan kepada pendukung saya di desa bahwa saya tidak pernah mengundurkan diri. Dan untuk itu, saya sudah berjuang cukup lama, lebih dari 1 tahun. Bukan waktu yang mudah untuk saya bertahan,” ungkapnya.
Ia bahkan menggambarkan posisinya sebagai perjuangan panjang yang harus diterima dengan kesabaran.Menurutnya, apa yang dialaminya bukan sekadar keputusan politik biasa, melainkan isu yang mungkin penuh dengan rekayasa.
Carolina mengungkapkan bahwa selama proses PAW ini, ia merasa ada ruang abu-abu yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Ia kemudian menyampaikan pemikiran spiritualnya yang mendalam:
“Namun pada akhirnya, saya dihadapkan pada kondisi ini karena saya menyadari bahwa kita berada dalam situasi di mana kita diatur oleh regulasi yang, suka atau tidak, bisa saja, dalam berbagai cara, dimanipulasi atau direkayasa, atau bahkan jadi bagian dari konspirasi besar, tanpa kita tahu tujuan dan maksud di baliknya. ” Katanya. Sebagai individu yang diberi kepercayaan untuk menjalankan tugas tertentu, saya merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas semua tugas yang ada di tangan saya. Oleh karena itu, langkah yang telah saya ambil hingga saat ini, termasuk kemarin, adalah mengajukan surat protes terkait keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur.
https://www.oborsumba.com/duo-kajari-kupang-guncang-ntt-forum-guru-ntt-sebut-mereka-utusan-tuhan-untuk-menghancurkan-korupsi-yang-menggurita
Sekarang, ia menantikan balasan resmi dari Gubernur NTT. Ia mengungkapkan bahwa sebagai seorang pemimpin yang dipilih oleh masyarakat, gubernur harus memastikan setiap aspek administrasi dan hukum sesuai dengan prosedur yang seharusnya.
Carolina menekankan apa yang dilakukannya bukan hanya untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk mempertahankan prinsip keadilan sebagai seorang warga. Namun hingga kini, ia mengakui belum mendapatkan tanggapan apapun. Oleh karena itu, Carolina menyatakan jika tidak ada respons yang sesuai dengan aturan, ia akan mengambil langkah selanjutnya.
“Tentu saja, langkah hukum berikutnya, saya berencana untuk mengambil jalur hukum melalui PTUN,” ujarnya.
Ia bahkan menyatakan kebingungannya mengapa semua dokumen yang diserahkan ke NasDem Tower melalui resepsionis tidak pernah mendapat pengakuan, padahal ia menyimpan bukti penerimaan yang sah.
“Kita harus melewati pintu depan ke mana pun kita pergi, saya heran mengapa dokumen saya tidak pernah diakui. Padahal sudah diterima dengan baik oleh resepsionis, dicatat, dan saya juga mendapatkan tanda terima. ”
Bagi Carolina, keputusan gubernur yang mengeluarkan PAW secara sepihak tanpa adanya klarifikasi menunjukkan sikap yang mengabaikan kenyataan bahwa ia masih berada dalam proses hukum. Ia berharap keadilan bisa tercapai baginya dan bagi suara rakyat yang ia wakili.
“Dan saya mengharapkan keadilan untuk diri saya karena saya berjuang dengan cara yang saya nilai baik dan benar,” tandasnya.
Pewarta, 02.






