TAMBOLAKA, OBOR SUMBA— Kekerasan terhadap wartawan kembali mengusik nurani publik. Insiden yang menimpa Gunter Guru Ladu Meha di RSUD Reda Bolo, Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, tak lagi dipandang sebagai tindak kriminal biasa, melainkan serangan langsung terhadap kebebasan pers.
PADMA Indonesia dan KOMPAK Indonesia angkat suara. Keduanya mengecam keras aksi kekerasan fisik dan psikis yang terjadi pada Kamis (23/4/2026) itu, seraya menilai peristiwa tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap fungsi kontrol sosial media.
Baca juga: https://www.oborsumba.com/menkes-tinjau-rsud-reda-bolo-soroti-layanan-odgj-di-sumba-barat-daya/
Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia sekaligus Ketua KOMPAK Indonesia, Gabriel Goa, menegaskan bahwa serangan terhadap jurnalis adalah ancaman serius bagi demokrasi.
“Pers adalah suara bagi yang tak bersuara. Kekerasan terhadap jurnalis merupakan pelanggaran HAM dan upaya sistematis membungkam kritik atas praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan,” ujarnya.
Tak berhenti pada kecaman, kedua lembaga itu melayangkan tiga tuntutan tegas.
Pertama, aparat penegak hukum diminta bertindak tanpa kompromi. Polres Sumba Barat Daya didesak segera menangkap pelaku lapangan hingga mengungkap aktor intelektual di balik serangan.
Kedua, pemerintah daerah diminta melakukan audit total terhadap Dinas Kesehatan dan RSUD Reda Bolo yang kini menjadi sorotan.
Ketiga, mereka mendorong keterlibatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menelusuri dugaan praktik korupsi yang diduga berkaitan dengan kasus ini.
Baca juga: https://www.oborsumba.com/serangan-terhadap-wartawan-di-sbd-forjis-desak-penegakan-hukum-tanpa-kompromi/
Sementara itu, proses hukum mulai berjalan. Korban telah memberikan keterangan resmi, dan Kasat Reskrim Polres SBD, Yakobus K. Sanam, disebut telah memerintahkan pemanggilan terhadap terduga pelaku.
Kasus ini mencuat di tengah kunjungan kerja Menteri Kesehatan di wilayah tersebut, menambah tekanan publik terhadap aparat penegak hukum. Ujian kini terbuka: apakah hukum mampu menembus aktor di balik layar, atau berhenti pada pelaku lapangan.
Di Sumba Barat Daya, kebebasan pers sedang dipertaruhkan. Dan publik menunggu apakah negara hadir, atau justru diam.
(02/OS)












