KODI UTARA, OBOR SUMBA — Desa Bila Cenge, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Tim formator dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya kembali hadir di Gereja Katolik St. Stefanus Huma, Paroki St. Paulus Ande Ate untuk melaksanakan misi kemanusiaan di Desa Bila Cenge. Kehadiran mereka membawa rangkaian program peningkatan kapasitas masyarakat yang digerakkan oleh empat dosen lintas disiplin: Dr. dr. Linawati Hananta, Sp. Fk (kedokteran dan ilmu kesehatan), Dr. Maria Theresia Asti Wulandari, M.A., Psikolog, Trifenaus Prabu Hidayat, S.T., M.T (biosains, teknologi, dan inovasi), serta Prof. Dr. Natalia Yeti Puspita, S.H., M.Hum. (Profesor dan peneliti hukum internasional).
Kolaborasi empat pakar ini dirancang sebagai dukungan multidisiplin yang menyasar berbagai isu kritis masyarakat Bila Cenge mulai dari kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, pendampingan psikologis keluarga, penyediaan air bersih, hingga mitigasi perdagangan orang.
Pencegahan Stunting dan Pendampingan 1.000 HPK
Dalam sesi kesehatan, Dr. dr. Linawati Hananta, Sp. Fk menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan pemantauan jangka panjang dan berkesinambungan. Ia menjelaskan bahwa tim Atma Jaya sudah lebih dulu turun pada Oktober 2024 untuk melakukan pemetaan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Baca juga: https://www.oborsumba.com/kader-senior-dibuang-carolina-louro-angkat-perlawanan-nasdem-sbd-bergejolak
“Selain pemasangan sumur bor dan panel surya, dari sisi kesehatan kami melakukan skrining mulai dari lansia hingga ibu dan anak. Kami mengikuti perkembangan ibu dan anak sejak 1.000 hari pertama kehidupan sebagai bentuk partisipasi kami dalam mengentaskan stunting di Bila Cenge,” jelasnya.
Pendampingan Psikologis Keluarga
Dari bidang psikologi, Dr. Maria Theresia Asti Wulandari, M.A., Psikolog, memberikan edukasi komprehensif mengenai pola asuh positif serta peran keluarga dalam mencegah stunting serta gangguan perkembangan anak.
“Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap stunting, kami memberikan pembekalan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan sejak masa kehamilan hingga anak lahir. Pertumbuhan dan perkembangan harus dipantau dengan baik. Di akhir sesi, kami mengajak orang tua menerapkan pola asuh positif,” ujarnya.
Teknologi Air Bersih untuk Hidup Bermartabat
Di bidang biosains, teknologi, dan inovasi, Trifenaus Prabu Hidayat, S.T., M.T menegaskan bahwa akses air bersih adalah fondasi kehidupan yang sehat, layak, dan bermartabat.
“Air adalah sumber kehidupan. Di mana ada air, di situ tumbuh kehidupan baru. Karena itu, kami berinisiatif melakukan pencarian sumber air melalui pengeboran. Syukur kepada Tuhan, hasilnya kini bisa didistribusikan hingga ke desa lain,” ungkapnya.
Sumur bor yang dipasang dengan pendampingan tim Atma Jaya kini menjadi sumber air utama bagi warga, mengurangi beban mereka yang sebelumnya harus berjalan jauh untuk mendapatkan air.
Mitigasi Human Trafficking: Edukasi Mendesak untuk Desa Rentan
Dari aspek hukum, Prof. Dr. Natalia Yeti Puspita, S.H., M.Hum., memberikan penyuluhan intensif mengenai bahaya laten human trafficking yang kerap menyasar wilayah dengan tingkat kerentanan sosial-ekonomi tinggi.
“Mitigasi perdagangan orang merupakan bagian penting dari pemberdayaan masyarakat. Warga harus mampu mengenali tanda-tandanya, melindungi diri, dan bebas dari risiko human trafficking di Indonesia,” tegasnya.
Baca juga:Kantong Merah dan Senyum yang Ditunda https://www.oborsumba.com/kantong-merah-dan-senyum-yang-ditunda
Ia mengimbau warga untuk segera melapor jika menemukan indikasi perekrutan mencurigakan, terutama yang menyasar perempuan dan anak.
Harapan untuk Bila Cenge
Mengakhiri sesi kegiatan, Tim Formator Atma Jaya menyampaikan bahwa pendampingan tidak akan berhenti hingga di sini.
“Melalui langkah Kenali, Lindungi, dan Laporkan baik kepada komunitas, gereja, maupun pemerintah kita bersama-sama pasti bisa,” ujar Prof. Natalia.
Moderator OMK Paroki St. Paulus – Ande Ate
Sebagai moderator OMK Paroki St. Paulus – Ande Ate yang turut mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, saya menyampaikan apresiasi yang mendalam atas keberlanjutan kerja sama antara Gereja, masyarakat, dan Universitas Katolik Atma Jaya.
“Saya melihat bahwa kehadiran tim Atma Jaya bukan hanya membawa pengetahuan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi umat,” ungkap Rm. Marus, Pr. “Pendekatan lintas disiplin yang mereka hadirkan benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat Bila Cenge dari kesehatan, pola asuh keluarga, ketersediaan air bersih, hingga perlindungan terhadap praktik perdagangan orang.”
Saya juga menekankan bahwa pendampingan seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana kaum muda, Gereja, dan dunia pendidikan dapat saling menguatkan.
“OMK paroki kami ikut belajar dari proses ini. Kami diajak untuk semakin peka, mau terlibat, dan siap menjadi bagian dari transformasi sosial di wilayah ini. Kami berharap kunjungan dan pendampingan seperti ini tidak berhenti, tetapi terus bertumbuh demi masa depan Kodi Utara yang lebih manusiawi, sehat, dan berdaya.” kata Rm. Marus, Pr.
(OS,Pewarta 03/YUM)












