SUMBA BARAT DAYA, NTT, OBOR SUMBA — Pengeboran sumur di Desa Kalembu Kaha, Kabupaten Sumba Barat Daya, sempat mengalami kegagalan. Namun, setelah melalui beberapa kali upaya, sumber air akhirnya ditemukan. Keberhasilan itu menjadi awal kolaborasi lintas sektor yang diarahkan untuk memperluas akses air bersih, menurunkan angka stunting, dan memperkuat pemberdayaan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Universitas Katolik Weetebula, BRI Kasih, JPIC Keuskupan Weetebula, Paroki Santo Paulus Ande Ate, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Pemerintah Desa Kalembu Kaha, serta masyarakat setempat.
Program pemberdayaan masyarakat tersebut didukung BRI Kasih melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) senilai Rp 219.995.205. Dukungan itu disalurkan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta untuk pelaksanaan program yang mencakup pembangunan infrastruktur air bersih, dukungan di bidang pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Kalembu Kaha.


Ketua Gugus 3T Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Ir. Enny Widawati, M.T., IPU mengatakan, proses pembangunan sarana air bersih menjadi pengalaman bahwa penyelesaian persoalan di wilayah 3T membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kerja bersama.
“Awalnya pengeboran mengalami kegagalan. Namun sedikit demi sedikit jalan terbuka hingga akhirnya masyarakat dapat menikmati akses air bersih. Ini adalah pekerjaan Tuhan, dan kami hanya menjadi alat dalam karya-Nya,” ujar Enny Widawati saat peresmian program, Jumat (24/7/2026).
Menurut Enny Widawati, setiap dukungan dari para donor merupakan amanah yang harus diwujudkan dalam manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, program tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi diarahkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, literasi digital, perlindungan masyarakat, dan penguatan ekonomi keluarga.
“Dana sosial adalah amanah yang harus menghasilkan manfaat nyata,” katanya.
Kebutuhan akan kolaborasi itu, menurut Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla, ST, sejalan dengan tantangan pembangunan yang masih dihadapi daerahnya. Kabupaten yang terdiri atas 11 kecamatan dan 173 desa itu masih bergulat dengan persoalan akses air bersih, kemiskinan, dan stunting.

“Air bersih bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air bersih adalah fondasi kesehatan masyarakat, pendidikan anak, dan salah satu kunci penting dalam menurunkan angka stunting,” ujar Ratu.
Ia menjelaskan, prevalensi stunting memang mulai menurun menjadi sekitar 39,7 persen. Namun, angka tersebut masih memerlukan penanganan yang berkelanjutan. Di sisi lain, pemerintah daerah juga menghadapi keterbatasan fiskal setelah pemotongan Transfer ke Daerah (TKD) sekitar Rp200 miliar.
“Dengan keterbatasan anggaran, pembangunan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah daerah. Kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan,” katanya.

Komitmen itu mendapat dukungan dari sektor perbankan melalui program tanggung jawab sosial BRI Kasih. Kepala BRI Cabang Waikabubak Pande Made Yogi Winata, S.E., M.Si. mengatakan, dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk ikut memperkuat pembangunan masyarakat melalui kemitraan yang berkelanjutan.
“Keberhasilan program ini adalah hasil kerja bersama. Kami hadir bukan hanya memberikan bantuan, tetapi menjadi mitra yang mendorong masyarakat agar semakin mandiri,” ujarnya.
Menurut Yogi, dukungan BRI Kasih difokuskan pada penyediaan akses air bersih, peningkatan kualitas pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami berharap fasilitas yang telah dibangun tidak berhenti sebagai proyek fisik, tetapi menjadi fondasi bagi masyarakat untuk hidup lebih sehat, lebih produktif, dan lebih sejahtera,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Kalembu Kaha, hadirnya sarana air bersih bukan sekadar menambah infrastruktur desa. Air yang kini mengalir dari sumur bor diharapkan menjadi titik awal perbaikan kualitas hidup warga melalui peningkatan kesehatan keluarga, percepatan penurunan stunting, serta terbukanya peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. OS/JM












