Sumba Youth Day IV Teguhkan OMK Menjadi Misionaris Pengharapan

  • Bagikan
Peserta mengarak salib saat pembukaan Sumba Youth Day (SYD) IV di Paroki St. Yosep Waimarama. Perarakan tersebut menandai dimulainya perjumpaan iman Orang Muda Katolik se-Keuskupan Weetebula.

KODI BANGEDO, OBOR SUMBA — Sebanyak 672 Orang Muda Katolik (OMK) dari 29 paroki dan kuasi paroki di Keuskupan Weetebula mengikuti Sumba Youth Day (SYD) IV yang resmi dibuka di Lapangan SDK Waimarama, Paroki St. Yosep Waimarama, Dekenat Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kamis (18/6/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (21/6/2026) itu menjadi momentum untuk meneguhkan peran kaum muda sebagai misionaris pengharapan bagi Gereja dan masyarakat.

Sumba Youth Day merupakan pertemuan berkala Orang Muda Katolik se-Pulau Sumba yang mempertemukan kaum muda dari berbagai wilayah pastoral dalam semangat pembinaan iman, persaudaraan, dan pelayanan. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “OMK Misionaris Pengharapan”.

Sejak pagi, kawasan kegiatan di Waimarama dipadati peserta yang datang dari berbagai paroki dan quasi paroki. Dengan mengenakan atribut Sumba Youth Day dari masing-masing paroki, mereka mengikuti registrasi, perarakan salib, penyematan tanda peserta, serta Perayaan Ekaristi pembukaan yang menjadi awal rangkaian kegiatan selama empat hari.

Orang Muda Katolik dari berbagai paroki mengikuti perarakan salib pada pembukaan Sumba Youth Day (SYD) IV di Paroki St. Yosep Waimarama, Dekenat Kodi.

Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR. Dalam homilinya, Edmund menegaskan bahwa kaum muda merupakan harapan Gereja yang harus dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dan kehidupan sosial pada masa depan.

“Mereka dipanggil menjadi orang-orang yang bertanggung jawab untuk kehidupan Gereja Katolik di tanah kita,” kata Edmund.

Menurut dia, perjalanan ziarah salib yang dilakukan OMK melintasi berbagai paroki, stasi, dan komunitas basis gereja di Pulau Sumba menunjukkan keterlibatan nyata kaum muda dalam kehidupan Gereja.

“Orang muda Katolik mempunyai pengharapan yang masih sangat luas dan sangat besar ke depan,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh umat untuk mendukung dan mendoakan berbagai kegiatan rohani maupun kemanusiaan yang akan dijalankan para peserta selama pelaksanaan SYD IV.

Edmund juga mengingatkan pentingnya doa, keheningan, dan pertobatan sebagai dasar perjalanan iman kaum muda.

“Mari kita menghadap Allah dengan penuh kerendahan hati,” katanya.

Memperkuat Persaudaraan Kaum Muda

Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Weetebula, Rm. Jefry Ghoba, Pr, mengatakan bahwa Sumba Youth Day bukan sekadar agenda tahunan, melainkan perayaan iman yang mempertemukan kaum muda Katolik dari berbagai penjuru Pulau Sumba.

Menurut Rm. Jegho, tema “OMK Misionaris Pengharapan” mengajak kaum muda untuk tidak hanya berbicara tentang harapan, tetapi juga menghadirkan harapan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.

Orang Muda Katolik dari berbagai paroki di Keuskupan Weetebula mengikuti perarakan salib pada pembukaan Sumba Youth Day (SYD) IV di Waimarama.

“Kita dipanggil menjadi cahaya kecil yang tidak takut pada gelap, menjadi suara yang tidak menyerah, dan menjadi tangan yang tidak lelah mengangkat sesama,” kata Jegho.

Ia menjelaskan bahwa SYD IV lahir dari semangat membangun jaringan persaudaraan lintas paroki, budaya, dan pengalaman hidup kaum muda Katolik di Pulau Sumba. Melalui perjumpaan itu, peserta diharapkan saling mengenal, berbagi pengalaman, dan memperkuat komitmen pelayanan.

Jegho juga memperkenalkan maskot SYD IV bernama Gogo, yang diambil dari varietas padi lokal yang tumbuh di Dekenat Kodi, termasuk di wilayah tempat pelaksanaan kegiatan. Maskot ini sebagai simbol kesuburan, harapan, dan rasa syukur.

Selain itu, empat salib SYD bersama salib-salib dari sejumlah dekenat di Pulau Sumba dihadirkan sebagai lambang persatuan dan perjalanan iman kaum muda.

Jegho menegaskan bahwa SYD menjadi ruang perjumpaan antara iman dan budaya, sekaligus kesempatan bagi kaum muda untuk semakin terlibat dalam karya pastoral Gereja.

Pembinaan Karakter di Era Digital

Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, ST dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan SYD IV sebagai ruang pembinaan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat.

Menurut Ratu, generasi muda merupakan kekuatan besar yang dimiliki Gereja dan bangsa sehingga perlu dibekali karakter yang kuat, integritas, serta iman yang kokoh.

“Dunia dalam genggaman kita lewat handphone. Informasi begitu mudah dan cepat, tetapi kita harus mampu memfilter setiap informasi yang masuk,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembinaan kaum muda merupakan tanggung jawab bersama keluarga, Gereja, pemerintah, dan masyarakat agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana serta tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan iman.

John Mone dan Us, peserta Sumba Youth Day (SYD) IV berbaur dengan keluarga Damianus Ndara Bengo dalam kegiatan live in di Basis St. Gregorius, Stasi Gallu Wawi, Paroki St. Yosep Waimarama.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pembinaan iman dan kepemimpinan, adorasi Sakramen Mahakudus, perayaan Sakramen Tobat, aksi sosial, pentas seni, malam keakraban, parade peserta, hingga misa penutupan yang akan dipimpin Uskup Weetebula pada Minggu (21/6/2026).

Setelah pembukaan, peserta dijadwalkan mengikuti pembinaan iman dan kepemimpinan pada Jumat (19/6/2026), dilanjutkan aksi sosial serta pentas seni pada Sabtu (20/6/2026), sebelum misa penutupan dan penyerahan simbol SYD berikutnya pada Minggu (21/6/2026).

Bagi Keuskupan Weetebula, tema “OMK Misionaris Pengharapan” menjadi penegasan bahwa kaum muda bukan sekadar peserta kegiatan Gereja, melainkan bagian penting yang akan menentukan arah pelayanan dan kehidupan Gereja pada masa depan. OS/JM

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *