Dua Kasus Bunuh Diri Beruntun, Pendampingan Orang Muda Dinilai Mendesak

  • Bagikan
Peserta Sumba Youth Day (SYD) IV mengikuti kegiatan pembinaan di Paroki St. Yosep Waimarama, Dekenat Kodi, Keuskupan Weetebula. SYD IV diikuti 672 orang muda Katolik dari empat kabupaten se-Pulau Sumba.

Domus Cordis mendorong pembentukan kelompok-kelompok kecil dan pertemuan rutin agar orang muda memiliki ruang untuk berbagi, didengar, dan mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan.

KODI BANGEDO, OBOR SUMBA – Dua kasus bunuh diri yang terjadi dalam rentang dua hari di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, kembali menyoroti pentingnya pendampingan yang berkelanjutan bagi orang muda. Minimnya ruang untuk berbagi persoalan hidup dan lemahnya relasi pendampingan dinilai dapat meningkatkan kerentanan psikologis di kalangan generasi muda.

Dalam dua hari terakhir, Kabupaten Sumba Barat Daya diwarnai dua peristiwa bunuh diri yang menjadi perhatian masyarakat. Pada Kamis (18/6/2026), seorang remaja berusia 16 tahun ditemukan meninggal dunia dalam posisi tergantung di Kampung Taworara, Desa Weerena, Kecamatan Kota Tambolaka. Peristiwa tersebut dilaporkan oleh media nasional Tipikorinvestigasinews.id dan masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

Sehari kemudian, Jumat (19/6/2026), seorang pria berinisial ASZ (18) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di Dusun 2 Kadipada, Desa Kadipada, Kecamatan Kota Tambolaka. Berdasarkan informasi keluarga, korban diketahui telah menikah dan memiliki seorang anak berusia tiga tahun.

Korban pertama kali ditemukan oleh dua warga yang sedang mencari kayu di sekitar lokasi kejadian. Menindaklanjuti peristiwa tersebut, Polres Sumba Barat Daya bersama tim medis Puskesmas Watu Kawula dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pemeriksaan awal.

Sesi pendampingan orang muda dalam Sumba Youth Day (SYD) IV di Paroki St. Yosep Waimarama. Foto: Komsos Keuskupan Weetebula.

Informasi mengenai kedua peristiwa tersebut dilansir oleh media nasional Tipikorinvestigasinews.id. Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan dan menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kematian kedua korban.

Pesan tersebut disampaikan Head PKB Domus Cordis Keuskupan Agung Jakarta, Robertus Andi Kristianto saat menghadiri Sumba Youth Day (SYD) IV di Paroki St. Yosef Waimarama, Dekenat Kodi, Kamis (18/6/2026). Kegiatan yang diikuti 672 peserta dari empat kabupaten se-Pulau Sumba itu menjadi ruang perjumpaan dan refleksi bagi orang muda Katolik untuk memperkuat peran mereka sebagai misionaris pengharapan.

Menanggapi situasi tersebut, Robertus mengatakan banyak orang muda merasakan kehadiran Gereja saat kegiatan atau pertemuan besar berlangsung. Namun, keterlibatan itu sering kali tidak berlanjut setelah acara berakhir.

“Orang muda merasa didampingi ketika ada kegiatan. Namun setelah kegiatan selesai, sering kali tidak ada lagi pertemuan rutin yang membuat relasi tetap terjaga,” kata Robertus.

Menurut dia, pola keterlibatan yang hanya berpusat pada kegiatan besar menjadi salah satu tantangan dalam pelayanan kaum muda. Akibatnya, banyak orang muda kehilangan ruang untuk berbagi pengalaman hidup maupun mencari dukungan ketika menghadapi persoalan pribadi.

Peserta terharu pemaparan materi dalam SYD IV.

Robertus mengungkapkan, kondisi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya kerentanan psikologis orang muda di tengah keterbatasan ruang pendampingan yang berkelanjutan.

“Kami melihat ada orang muda yang tidak memiliki teman curhat atau pendamping yang bisa menemani mereka dalam menghadapi persoalan hidup. Karena itu, pendampingan tidak boleh berhenti pada kegiatan-kegiatan besar saja,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Domus Cordis bersama para pendamping orang muda mendorong terbentuknya kelompok-kelompok kecil di tingkat paroki. Kelompok ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang berlangsung secara rutin sehingga orang muda memiliki komunitas yang saling mendukung.

Robertus menjelaskan, sejak kunjungan ke Keuskupan Weetebula pada Mei lalu, perhatian utama diarahkan pada penguatan kapasitas para pendamping. Mereka dibekali kemampuan membangun relasi dengan orang muda, menyelenggarakan pertemuan rutin, serta mendampingi kebutuhan emosional anggota komunitas.

Selain itu, pembinaan juga menekankan disiplin rohani melalui doa bersama, membaca Kitab Suci, dan mengikuti perayaan Ekaristi secara teratur. Pendamping diharapkan menjadi titik kontak yang mampu hadir dalam keseharian orang muda, tidak hanya saat kegiatan berlangsung.

Peserta mengikuti diskusi dalam kegiatan SYD IV.

Materi yang disampaikan Domus Cordis mendapat respons positif dari peserta. Salah seorang peserta, Laurensius G. S. Hayon dari Paroki St. Arnoldus Janssen Tambolaka, mengaku terkesan dengan pendekatan yang digunakan komunitas tersebut dalam mendampingi orang muda.

Menurut dia, penyampaian materi berlangsung komunikatif dan dekat dengan pengalaman hidup kaum muda sehingga peserta merasa nyaman untuk terlibat dalam diskusi.

“Saya merasa materi yang disampaikan sangat menarik. Bahkan masih banyak pertanyaan yang belum sempat saya ajukan. Saya berharap suatu saat dapat kembali bertemu dengan tim Domus Cordis untuk berdiskusi lebih lanjut,” katanya.

Laurensius menilai kekuatan Domus Cordis terletak pada kemampuannya membangun komunikasi yang akrab dengan kaum muda. Pendekatan tersebut tidak hanya membantu peserta memahami materi, tetapi juga mendorong mereka membangun relasi yang lebih erat dengan sesama orang muda dan para pendamping.

Ia berharap Domus Cordis dapat terus menjadi mitra pembinaan bagi orang muda Katolik di Sumba. Menurut dia, semangat pendampingan yang dibangun komunitas tersebut dapat menginspirasi lahirnya generasi muda yang mampu menjadi misionaris pengharapan di tengah Gereja dan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, Laurensius berencana membagikan berbagai wawasan yang diperoleh kepada rekan-rekan Orang Muda Katolik (OMK) di parokinya. Dengan demikian, nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi dapat menjangkau lebih banyak kaum muda.

“Saya ingin membagikan apa yang saya peroleh kepada teman-teman OMK agar semakin banyak orang muda yang memiliki harapan, semangat melayani, dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.

Bagi Laurensius, materi yang disampaikan Domus Cordis tidak hanya memperkaya pemahamannya tentang pendampingan orang muda, tetapi juga memperteguh panggilan hidup yang sedang ia jalani sebagai calon imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Antusiasme peserta mewarnai kegiatan SYD IV.

“Ketika mendengar pemaparan materi dari Domus Cordis, saya semakin yakin untuk mengabdikan diri sebagai misionaris. Tema Sumba Youth Day yang mengajak orang muda Katolik menjadi misionaris pengharapan sangat sejalan dengan panggilan yang sedang saya jalani sebagai calon imam SVD,” katanya.

Menurut Laurensius, semangat pendampingan, kepedulian, dan pengharapan yang dibagikan Domus Cordis menjadi inspirasi untuk menghadirkan kasih dan terang Kristus di tengah masyarakat.

“Dengan menjadi misionaris dari tanah Sumba melalui Serikat Sabda Allah (SVD), saya berharap dapat semakin banyak menyebarkan kasih dan terang bagi sesama,” ujarnya.

Di tengah dua peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan itu, pendampingan yang berkelanjutan dinilai bukan lagi sekadar program pastoral, melainkan kebutuhan nyata agar orang muda memiliki ruang untuk didengar, diterima, dan menemukan harapan ketika menghadapi berbagai persoalan hidup. OS/JM

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *