Di Bawah Langit yang Menyimpan Luka

  • Bagikan
Potret Pesta Woleka di Kampung Tambullo, Desa Waikadada, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. NTT. Jumat, 26/09/2025.
Potret Pesta Woleka di Kampung Tambullo, Desa Waikadada, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. NTT. Jumat, 26/09/2025.

 

KODI BANGEDO, OBOR SUMBA – Sebuah Refleksi Tentang Cinta, Adat, Dan Luka Yang Tak Pernah Sembuh.

Angin sore itu datang lembut, menelusup di antara ilalang yang menunduk seperti sedang berdoa.

Langit menggantung rendah, seolah ikut menyaksikan sesuatu yang tak sanggup ia tangguhkan lagi.

Aku, yang biasa di sapa Kabani oleh orang sekampungku, berdiri di tengah lapangan berumput itu.

Tanahnya masih basah oleh darah Keremboyo — hewan yang setia, yang pernah kucintai seperti sahabat sendiri.

Di sekitarku, orang-orang bersorak. Anak-anak duduk di atas tembok, menatap dengan mata lebar dan polos.

Orang-orang dewasa berdiri tegak, sebagian dengan tangan di dada, sebagian dengan wajah kaku tanpa senyum.

Di tengah mereka, Ama berdiri gagah dengan kain tenun melilit pinggang, matanya menatap ke depan tanpa berkedip.

Di wajahnya ada sesuatu yang sulit kuterjemahkan — bukan bangga, bukan sedih, tapi semacam kepasrahan yang telah lama diajarkan oleh waktu.

Keremboyo jatuh di hadapan kami.

Suara tubuh besarnya yang menimpa tanah mengguncang dada, seperti gong yang dipukul perlahan dari dalam hati.

Darahnya mengalir, menghidupi semut-semut dan rerumputan yang tak tahu makna upacara ini.

Aku berdiri terpaku.

Tubuhku menggigil meski angin sore itu hangat.

Suara orang-orang bersorak terdengar seperti gema jauh dari dalam gua masa lalu.

Ama mendekat padaku.

Tangannya menyentuh pundakku, hangat tapi berat.

“Jangan menangis, Kabani,” katanya perlahan. “Ini jalan hidup kita. Keremboyo harus pergi agar berkat datang.”

Aku menatapnya — matanya penuh keyakinan, tapi di dalamnya ada sesuatu yang retak.

Mungkin ia sendiri sudah lama tak mengerti, tapi terlalu dalam adat ini menanamkan akar di jiwanya.

Malam harinya, aku duduk di dekat api unggun.

Suara kayu terbakar berpadu dengan suara serangga malam.

Asap naik perlahan, seperti doa yang mencari jalan pulang ke langit.

Ama duduk di seberangku, menatap api dengan mata kosong.

Kami lama diam, hingga akhirnya aku berani bertanya, “Ama… apakah leluhur sungguh ingin darah itu?”

Ia menatapku lama, seperti mencari jawaban di wajahku yang muda.

“Entahlah, Kabani,” katanya akhirnya, suaranya parau. “Dulu aku juga bertanya begitu pada ama-ku. Dan ia menjawab: ‘Kita hanya meneruskan, bukan mempertanyakan.’”

“Lalu sampai kapan kita harus meneruskan sesuatu yang membuat hati kita berdarah, Ama?”

Pertanyaanku terlepas, seperti batu yang lama tertahan di dada.

Ama terdiam. Api unggun memantulkan bayangan di wajahnya, membuatnya tampak tua dan letih.

“Aku tidak tahu, Nak,” bisiknya. “Mungkin sampai ada yang berani berhenti.”

Malam itu aku tak bisa tidur.

Aku pergi ke padang, tempat Keremboyo berbaring untuk terakhir kalinya.

Langit penuh bintang, tapi aku merasa bumi terlalu gelap untuk menatap ke atas.

Aku menyentuh tanah di mana darahnya jatuh.

Masih ada bau besi yang samar — bau yang bercampur dengan kenangan.

Aku teringat saat kecil, ketika aku dan Keremboyo bermain di sungai.

Ia selalu berjalan di belakangku, menunduk rendah, seolah tahu bahwa aku kecil dan rapuh.

Ia tak pernah menanduk, tak pernah marah. Ia hanya diam, setia.

Dan hari ini, aku harus melihatnya mati demi sesuatu yang aku sendiri tak mengerti.

Air mataku jatuh.

Tapi malam terlalu sepi untuk menampung tangis seorang anak yang melawan adat.

“Aku minta maaf, Keremboyo,” bisikku. “Kami terlalu takut disebut durhaka, sampai lupa bahwa kau juga makhluk Tuhan yang mengerti kasih.”

Hening.

Hanya suara jangkrik dan desiran angin yang menjawab.

Tapi di antara kesunyian itu, aku merasa sesuatu bergetar di dadaku — bukan rasa takut, tapi semacam kesadaran yang lahir dari luka.

 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Orang-orang mulai lupa pada upacara itu, tapi aku tidak.

Setiap kali hujan turun, aku mendengar bisikan dari tanah:

“Kasih tak seharusnya berdarah.”

Ama semakin tua.

Kadang aku melihatnya duduk di bawah pohon besar dekat ladang, menatap langit tanpa bicara.

Mungkin ia juga mendengar bisikan itu, tapi memilih diam.

Mungkin ia tahu bahwa diam lebih aman daripada melawan arus adat yang kuat seperti batu karang.

Suatu sore, aku duduk di sampingnya.

Aku genggam tangannya yang penuh urat dan luka kerja.

Ama tersenyum lemah. “Kau masih memikirkan Keremboyo, ya?”

 

Aku mengangguk.

“Keremboyo bukan hanya hewan, Ama. Ia sahabatku. Ia ajarkan aku arti setia tanpa kata.”

Ama menatapku, lama sekali.

“Dulu aku juga punya hewan seperti itu,” katanya lirih. “Namanya Ledo. Ia juga dikorbankan waktu aku seumuranmu.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang. “Waktu itu aku menangis diam-diam. Tapi tak ada yang tahu. Karena di kampung ini, air mata dianggap lemah.”

Aku tak kuasa menahan tangis.

Ternyata luka ini bukan hanya milikku — tapi luka yang diwariskan, disamarkan dengan nama adat.

Hari ini, aku menulis kisah ini bukan untuk mengutuk adat.

Adat itu indah, jika dijaga dengan kasih, bukan ketakutan.

Aku hanya ingin mengingatkan — bahwa di balik setiap ritual yang kita sebut “pengorbanan,” ada kehidupan yang juga berhak dihormati.

Aku ingin suatu hari nanti, anak-anakku tak lagi melihat darah sebagai lambang cinta,

melainkan melihat kasih sebagai persembahan paling suci.

Sebab kasih tidak butuh pisau,

kasih tidak haus darah,

kasih hanya perlu hati yang tulus dan keberanian untuk berkata:

“Cukup.”

Dan jika suatu hari aku menjadi seorang Ama seperti ayahku,

aku ingin berkata kepada anakku:

“Adat yang sejati bukan yang membuatmu taat dalam ketakutan,

tetapi yang membuatmu mencintai dalam kebebasan.”

 

Kadang, luka terbesar bukanlah yang dibuat oleh musuh,

tapi oleh cinta yang dibungkus adat,

oleh tradisi yang lupa bertanya apakah Tuhan masih ingin darah,

atau justru ingin hati yang tahu berhenti menyakiti.

Aku, Kabani, hanya seorang anak kecil yang kehilangan sahabat bernama Keremboyo.

Tapi aku tahu, dari kematian itulah aku belajar hidup —

bukan hidup yang tunduk buta pada adat,

melainkan hidup yang berani menatap luka dan berkata:

“Cinta yang sejati tidak menyembelih, tapi menyembuhkan.”

Apakah kau masih di sana, Keremboyo?

Jika iya, tidurlah tenang di bawah tanah yang hijau itu.

Aku berjanji, darahmu tidak akan sia-sia.

Sebab dari luka yang kau tinggalkan,

akan tumbuh kasih yang baru —

kasih yang tak lagi memerlukan kematian

untuk disebut suci.

 

(OS/RD.MARUS) 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *