Krisis Logistik Farmasi, Layanan RSUD Reda Bolo Dikabarkan Megap-megap; Direktur Bantah Tolak Pasien

  • Bagikan
RSUD Reda Bolo, Kabupaten Sumba Barat Daya, diterpa isu krisis logistik farmasi setelah muncul laporan kekosongan obat dan kebutuhan medis esensial yang disebut berdampak pada pelayanan pasien dan penerimaan rujukan.

TAMBOLAKA, OBOR SUMBA  Pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Reda Bolo, Kabupaten Sumba Barat Daya, dikabarkan tengah didera krisis farmasi yang cukup serius. Kelangkaan sejumlah logistik medis esensial memicu kekhawatiran terjadinya kelumpuhan pada beberapa lini layanan pasien.

​Menurut informasi yang dihimpun redaksi dari sumber internal pada Senin (25/05/2026), kekosongan stok obat, termasuk obat dasar sejenis Paracetamol, mulai mengganggu efektivitas penanganan medis. Dampak kelangkaan ini bahkan disebut-sebut merembet hingga ke sektor penunjang.

​“Tidak bisa periksa laboratorium apa pun, sehingga pasien tidak bisa diterima,” ujar sumber tepercaya media ini.

​Kondisi tersebut dilaporkan sempat membuat situasi internal memanas. Krisis logistik ini bahkan memicu usulan dari dokter spesialis bedah untuk menutup sementara pelayanan bedah dan menghentikan penerimaan rujukan pasien. Akibatnya, sejumlah pasien yang membutuhkan penanganan spesifik terpaksa harus dialihkan ke fasilitas kesehatan lain.

​“Dokter yang lain pun tidak bisa terima pasien rujukan,” tambah sumber tersebut.

​Keluhan Warga: Kantong Darah Kosong.

​Sentimen negatif dari masyarakat juga mulai bermunculan. PL, seorang pendonor darah asal Kecamatan Wewewa Barat, meluapkan kekecewaannya saat hendak mendonorkan darah bagi anggota keluarganya yang dalam kondisi kritis (kadar HB mencapai 4). Ia mendapati stok kantong darah di RSUD Reda Bolo dalam keadaan kosong.

​”Karena menunggu terlalu lama, saya marah-marah. Saya bilang, jika tidak ada kantong darah, kita pakai kantong plastik saja,” sesal PL dengan nada tinggi saat menceritakan pengalamannya pada (26/05/26) di Desa Pogotena, Kecamatan Loura.

Terkait persoalan kantong darah, Direktur RSUD Reda Bolo, dr. Elfrida Marpaung, saat dikonfirmasi kembali pada Kamis (28/05/2026), menjelaskan bahwa keterlambatan terjadi karena rumah sakit masih bergantung pada distributor dan pihak prinsipal dalam proses pengadaan.

“Kami tergantung kepada distributor karena belanjanya di prinsipal. Kantong darah mengalami keterlambatan sehingga sementara belanja di RS Karitas,” ujar dr. Elfrida.

​Manajemen RSUD Membantah: “Layanan Tetap Berjalan, Ada Obat Pengganti”.

​Merespons polemik tersebut, Direktur RSUD Reda Bolo, dr. Elfrida Marpaung, angkat bicara untuk meluruskan situasi. Saat dikonfirmasi oleh Media Menara Sumba. Com pada Rabu (27/05/2026), dr. Elfrida secara tegas membantah tudingan bahwa rumah sakit telah menolak pasien akibat kekosongan Paracetamol.

​Menurutnya, hingga saat ini manajemen belum menerima keluhan resmi dari pasien terkait masalah tersebut. Ia memastikan roda pelayanan rumah sakit tetap berputar dengan memanfaatkan substitusi obat.

​“Apabila Paracetamol sudah kosong, kami masih punya obat pengganti lain yang khasiatnya sama. Untuk Paracetamol sendiri kami sudah lakukan pengadaan, namun memang ada keterlambatan pengiriman dari pihak logistik,” terang dr. Elfrida.

​dr. Elfrida berharap masyarakat tidak panik akibat isu yang beredar. Manajemen berkomitmen untuk terus mengawal proses pengadaan logistik farmasi yang terlambat agar pelayanan di RSUD Reda Bolo dapat segera kembali berjalan dengan optimal.

02/ YK.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *